![]() |
| Gambar hanya ilustrasi. |
"Pokoknya mah, nanti bulan ramadan maneh bakal di jadwal," kata Abah Iming, sesepuh kampung kami.
"Kalau bisa mah, ulah, Bah," aku menolak, "bukan apa-apa. Pertama, saya masih muda; kedua, saya belum menikah."
Apa daya, beliau kekeuh dengan keputusannya. Waktu itu, aku pikir, ah, paling basa-basi biasa. Mana mungkin, masih muda. Lagian, di kampungku masih banyak yang lebih mampu daripada aku.
Ternyata, namaku tertera dalam daftar imam tarawih di Ramadan 2025. Di situ, aku simalakama. Antara harus menerima atau sudah sembunyi saja pas kena giliran. Jadwal waktu: ada tiga imam dengan masing-masing bagian tugas 10 malam.
Masa itu adalah setahun Bapak wafat. Masa di mana keluarga kami belum pulih. Masa di mana Emak masih belum terjaga, menerima kenyataan bahwa Bapak sudah pergi ke alam abadi. Tugas imam itu serasa berat; selain keadaan tak memungkinkan, aku juga butuh mental untuk survive.
Ingin sekali aku menolak, tapi jadwal terpasang kokoh di beberapa sudut, baik di dalam maupun di luar masjid. Aku berdiskusi dengan keluarga. Mereka sih gimana aku. Aku bertanya kepada diriku. Terjadi dualisme perdebatan.
Di satu sisi aku bersikap seperti yang lain saja. Disuruh sesepuh menolak, tapi di luar vokal mengkritisi mereka yang biasa jadi imam. Mereka belum punya mental lebih, tapi menampilkan sok paling bisa. Jadinya, koar di luar dan layu di dalam.
Di sisi lain, aku ingin bersikap apa adanya. Aku disuruh dan sudah tercatat di kertas yang ditempel di tembok. Oleh karenanya, aku harus bisa melaksanakan permintaan itu. Terlepas nanti ada kekurangan dan kelebihan. Toh, itu bisa diperbaiki.
Kamu bisa bayangkan, menjadi imam pertama, dag dig dug hatiku. Bukan karena tidak hafal ayat, lebih kepada "takut salah" yang menggurita. Singkat cerita, aku punya keberanian karena ada jasa beliau.
Itu yang selalu aku ingat dan itu amal baik dari beliau. Kaum tua yang mampu merangkul kaum muda. Itu sungguh teladan luar biasa untuk kami generasi muda. (***)
Pandeglang, 02 Juli 2026 20.26

0 Komentar
Menyapa Penulis