Kepala Butuh Obat Pening

Gambar hanya ilustrasi. (dokpri)

Kepalaku serasa ingin pecah. Buka karena terlalu hanyut dalam diam menahan gelora rindu. Bukan pula memikirkan nasib masa depan yang penuh liku-liku warna. Bukan pula jadwal tagihan listrik yang kadang membuat bertanya-tanya. Bukan pula beban tagihan Wi‑Fi yang bikin ketar-ketir. Ini murni soal pikiran.

Ternyata, pening kepala itu tidak indah. Tidak pula seromantis di film-film. Itu seperti kamu mencintai seseorang yang tidak tahu kamu mencintainya. Kamu begitu effort, tapi dia biasa saja. Kesal dong kamu?

Laga, kok kesal, kan dia tidak tahu. Atau memang tidak mau tahu. Jadi, kenapa kamu yang kesal? Begitulah pikirku saat ini. Di mana aku berpikir bahwa waktu menyita semua cita-cita.

Aku jadi berpikir, kamu hidup untuk apa dan demi apa? Jadi tambah pening. Aku pun meminum Paramex. Obat pereda nyeri pening berkepala. Apa di kepala ada pening yang nyeri? Kenapa tiap pening harus selalu di kepala? Bagaimana bisa nyeri terobati oleh obat pereda?

Aku malah pening sendiri. 

Sendiri karena kamu di sana. Di sana tengah memupuk mimpi. Aku memupuk rindu. Memupuk tanya. Memupuk harap. Mau pun tanya, kapan dan mampukah bertahan? Apakah kamu juga pening yang sama dengan nyeri  yang aku rasakan?

Apakah definisi pening itu hanya akibat dari keinginan tak terlampiaskan? Ini jadi tambah menarik karena akhirnya terus berpusat pada debat soal keinginan semua itu. Entahlah. (**)

Posting Komentar

0 Komentar