| Ilustrasi perempuan yang menanti. (sumber: Olret Viva) |
Apakah kamu termasuk orang yang tengah menanti jodoh? Kalau ya, aku bisa melihat binar keluh itu di matamu. Keluhan yang pasti membuat hatimu kerap serba salah. Semakin serba salah ketika ditanyakan: kapan nikah?
Pertanyaan klise yang kerap membuat para perindu mahligai pernikahan mati kutu. Sebab pertanyaan itu lebih mengarah kepada jebakan, sehingga orang yang ditanya merasa dirinya melayang. Mati ke payang mau menjawab apa. Apa-apa terasa hilang.
Kamu sering merasa bersalah. Bahkan, ada titik di mana kamu berhenti melangkah. Orang bilang, minta ke Allah. Minta ke Allah, pasti diberi. Mereka lupa: Allah menetapkan takdir-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki, bukan apa yang kita inginkan.
Orang yang menanti jodoh bukanlah mereka yang tidak pernah berdoa. Bukan pula seperti yang mereka singgung: makanya ikhtiar, nunggu takdir mulu.
Ya, kata mereka, "merasa dirinya" lebih bahagia darimu. Merasa lebih sukses darimu. Seolah kenormalan diukur dari "akad" yang terjadi, bukan dari tujuan hakiki dari akad tersebut. Bukan pula rekam medis yang diakui pakarnya.
Padahal, kalau benar bahagia karena "status menikah", apa artinya maraknya perceraian seusai pernikahan? Apa artinya KDRT yang kerap ditayangkan media? Atau, berapa orang yang mengeluh setelah menikah? Sayangnya, itu tidak disampaikan kepada mereka yang belum menikah.
Kita selalu membicarakan hal-hal menyenangkan seputar pernikahan. Soal malam pertama yang menegangkanlah, soal kemesraan setelah halal lah, soal seks yang bisa meredam kemarahan di antara dua yang berkonflik lah, dan hal lainnya.
Padahal kita tahu menikah itu memindahkan tanggung jawab, baik soal nafkah batin maupun lahir. Ada token listrik yang harus kamu pikirkan agar tidak berteriak di malam hari. Ada gas elpiji harus terus terisi agar aman. Pasokan pangan harus aman. Terlebih, pendapatan finansial agar menjamin semua tetap hangat dan manis. Dan beban-beban lainnya/
Penting di atas itu, ilmu parenting juga kematangan beragama.
Kalau kamu laki-laki, sebelumnya tidak peduli terhadap tamu bulanan perempuan. Setelah menjadi suami, kamu harus tahu haid itu apa, masa subur itu apa, dan bagaimana kajian fikih membicarakan hal tersebut. Tentu saja, hal-hal lainnya yang tak kalah penting.
Aku bukan tengah menasihatimu untuk "takut menikah", tapi ingin menguatkanmu. Menikah itu bukan soal siapa yang lebih cepat lebih baik. Kamu lebih cepat dari temanmu bukan berarti lebih bahagia dan sukses. Sebab, ukuran sukses tiap orang kadang berbeda. Atau hanya saja kamu menyembunyikan rasa pahit di balik senyum itu?
Kenapa begitu?
Menikah itu bukan lomba lari. Siapa yang duluan akan menjadi pemenangnya. Siapa yang lambat, dia kalah. Sudah menikah atau tidaknya, kamu tetap akan diminta pertanggungjawaban. Kalah atau tidaknya kamu ditentukan nanti saat kamu masuk ke surga yang penuh kebahagiaan atau neraka yang penuh kesengsaraan.
Sebab menikah atau tidaknya kamu tidak sekadar "kamu mencari saja", tapi ada ketentuan Allah di sana.
Begitu pula mereka yang belum jua menikah, bukan karena salah mereka. Bukan pula karena tidak kerja keras. Tapi Allah punya kehendak lain terhadap mereka. Kamu bisa beropini. Apakah mereka juga tidak boleh beropini?
Ada kok yang sudah menuju ke proses pernikahan. Di detik hari H, salah satu calonnya wafat dijemput Izrail duluan. Ada yang baru beberapa jam menceraikan isterinya. Ada yang baru sepekan juga ada. Ada banyak peristiwa yang tak semuanya kita tahu hakikatnya.
Tulisan ini hendak mengajak kamu: jadilah kamu manusia yang baik. Kamu yang kuat. Kamu yang kokoh karena kerap diejek dengan takdir yang belum kamu ketahui. Percayalah pada kebaikan yang kamu lakukan. Yakin dengan ketaatan yang terus kamu jalani.
Menikahlah saat kamu siap lahir batin. Kamu yakin dia yang terbaik. Orangtuamu memberi restu karena memang dia pantas kamu perjuangkan.
Saat kamu nanti menyesal setelah menikah, jangan mencari siapa yang salah. Tapi mencari solusi. Dulu kamu mencari yang sempurna; sekarang adalah saling menyempurnakan.
Kamu sedang mencari, bukan berhenti. Kamu tengah menunggu, bukan terus menunggu. Kamu ingin seperti mereka, tapi takdir selalu berbeda. Terus, di mana salah kamu? (**)
Pandeglang, 9 Juli 2026 09.59
0 Komentar
Menyapa Penulis