Menampar Pipi Sendiri

 

Di rak belakang di antara koleksi kitab Abuya. (dokpri)

Sewaktu silaturahmi ke rumahnya Abuya Muh, aku dibuat kaget, sebab begitu banyak buku bertumpuk di rumahnya. Buku yang usang dengan judul menarik membuatku terpesona. Buku (baca: kitab) tebal dengan warna hitam polos membuatku penasaran. Kiranya membahas apa itu kitab?

Sebagai orang yang tidak besar dan belajar kitab kuning di pondok secara penuh, rasa penasaran terhadap kitab gundul itu cukup besar. Setahuku, kajian kitab gundul itu bahasanya tidak bretele-tele. Apalagi di kitab itu selalu ada syarah-syarah dari ulama atau muridnya. Itu mempermudah kita mengkaji kedalaman maknanya.

Misalnya, kitab Imam Nawawi banyak dikaji di pondok. Kalau kita telaah lebih dalam, banyak justru diawali oleh syarahnya. Karena kita yakini, kitab beliau termasuk "kitab tinggi" yang tidak semua santri mampu memahaminya.

Untuk mempermudah banyak ulama setelah beliau menjelaskannya agar mudah dipahami. Tujuannya jelas agar generasi selanjutnya bisa memahami dengan baik. Tidak salah penafsiran, tetapi akhirnya menimbulkan keraguan.

Ketika di majelis rumah Abuya itu, aku terbengong, begitu dalamnya kecintaan beliau kepada ilmu. Puluhan kitab yang terpampang itu adalah di antara koleksi kitabnya yang rajin beliau kaji. Kita bisa memahami bahwa dengan banyaknya ragam bacaan seluas itulah, pemahaman beliau terkait teks-teks agama yang rumit tidak kontradiktif.

Dalam budaya pesantren, kita mengenal semakin kita yang dikaji sedalam itu pemahamannya. Kajian itu bisa jadi barometer masyarakat tahu seperti apa kedalaman wawasan kiainya. Kalau kita pikir-pikir, ya juga sih, masa iya membahas kitab tebal tapi belum tahu titik krusial maknanya. Tentu saja tidak mungkin.

Dalam konteks keilmuan umum, mana mungkin orang bisa menjelaskan tema filsafat kalau ia tidak punya pengetahuan yang cukup terkait itu. Kalau pun dipaksakan, yang terjadi adalah kepincangan analisis. Kita akan melihat kerancuan di dalamnya.

Singkatnya, untuk mengetahui keilmuan seseorang sebenarnya mudah. Kita tidak harus tahu seperti apa risalah perjuangannya, siapa gurunya, dan berapa lama ia mengembara. Kita akan tahu secara cepat darinya, bersikap dan beraktivitas.

Bisa saja dia kaya akan pengalaman, tapi apa artinya itu tidak membuatnya lebih baik? Dia memang punya riwayat menguji tokoh-tokoh besar di wilayahnya. Apa artinya itu kalau pandai diungkapkan tanpa realisasi?

Harus ada upaya sinkronisasi antara ucapan dan sikap. Ini yang bakal melahirkan kesatuan sikap sehingga mempengaruhi dirinya juga orang terdekatnya.

Dengan kenyataan itu, sungguh malu dan terasa tertampar pipiku menjumpainya. Begitu cepat makna menggumpal jadi pesan tersembunyi. (**)

Posting Komentar

0 Komentar