Melepas Rasa yang Tak Boleh Sama

gambar disempunakan AI.


"Terus, bagaimana dengan keputusan Emak terkait hubungan kami?" tanyaku memastikan, apa mungkin ada restu diberikan atau masih seperti yang dulu. Restu itu menjadi hal yang sangat mahal.

"Kan, semua sudah jelas, Nak. Dia terlalu jauh. Andai dia dekat, mungkin lain ceritanya." 

Sampai di sini aku paham, jawaban itu sudah menjadi bulat menjadi keputusan: tidak ada lagi restu yang diberikan.

Berat memang, tapi mau bagaimana? Bukankah benar kata pepatah, cinta tak harus memiliki. Untuk apa kamu memaksakan rasa yang tak bisa bersama, kalau nantinya akan jadi duri yang merongrong hari-hari.

"Aa akan berusaha memperjuangkanmu, Cin, sampai akhir tahun nanti," kataku sebelum dia berangkat lagi ke pondok.

"Agar..." sengaja sekali menggantung jawaban.

"Kita bersama."

"Kalau tidak bersama Aa?"

"Kita berpisah dengan baik-baik."

"Tapi, aku gak mau. Pengen sama kamu terus," ujarmu merengek manja seperti biasanya.

"Kita berdoa. Semoga doa kita terkabul seperti yang kita mau."

Hari ini, jawabannya sudah benar-benar jelas. Sayangnya orangnya tak ada. Untung juga tak ada. Kalau ada, tentu tak enak rasa bagaimana mengungkapkan kenyataan pahit ini.

"Kita berpisah bukan karena tak cinta, tapi demi cinta itu tetap tumbuh di ruang yang tak terlihat mata."

Akhirnya, harus memulai langkah, mencari dan ikhtiar menjemput takdir. Lelah sih, ya. Pahit juga lumayan. Namun, bukankah segala sesuatu yang terjadi di dunia sudah tercatat dalam takdir-Nya?

Kita itu sering kali merasa mampu mengubah takdir. Merasa mampu  yang paling baik untuk saya kita. Kalau saya sama dia pasti bahagia. Kalau saya kerja begini pasti kaya. Kalau saya diposisi dia pasti lebih baik dan sebagainya.

Seolah-olah bisa mengintip ke Lauhul Mahfudz. 

Padahal, kita dengan segala keterbatasan pengetahuan ini hanya adalah sekedar prediksi. Namanya prediksi; bisa benar, bisa juga tidak. Bukan soal seperti apa prediksinya, tapi sejauh mana persiapan kita akan menerima takdir tersebut.

Masa depan itu masih gaib. Tabirnya tertutup layar sangat tebal. Kita hanya menerka-nerka. Mungkin begini, mungkin begitu. Saking gelapnya sering membuat putus harapan. Harapan itu terasa sirna karena prosesnya melelahkan.

BIARLAH

Biarlah, semua harus berakhir
karena cerita selalu ada awal dan akhir
seperti kisah-kasih di dunia
bukan karena aku dan kamu tidak saling cinta
tiap orang punya kisahnya 
yang tak selalu sama
laksana jamu pahit rasanya
nikmat khasiatnya.

Pandeglang, 19 Oktober 2026   23.36

Posting Komentar

0 Komentar