![]() |
| ilustrasi tentang puisi itu. |
Kamu berkata, "tuliskan untukku puisi?"
Padahal, kenapa harus meminta seperti itu? Bukankah kamu adalah puisi itu. Menyatu dalam uraian rasa yang menyatu dalam bait-bait kerinduan.
Ya, kamu yang diam-diam membaca ini. Kamu yang diam-diam tersenyum malu tanpa orang melihatnya. Kamu tahu, untuk apa dan siapa tulisan ini disuguhkan?
"Kenapa jatuh cinta secepat ini," katamu.
Kalaulah aku bisa menjawabnya, aku ingin mengutarakannya. Masalahnya, aku juga tidak tahu. Seperti kamu, aku pun merasakannya. Cuma lagi berpikir, masa secepat ini virus itu menyebar ke lubuk hati kita, dua insan yang sedang bertanya, 'Tuhan, di mana jodohku?'
Saat kamu bercerita aku senang mendengarnya. Walau pun aku sadar, benar atau tidaknya cerita itu karena memang kita sama-sama kenal. Sama-sama baru tahu. Masih menerka pola sikap dan rasanya.
Aku hanya percaya sama kata, jadilah orang jujur nanti juga banyak orang jujur dekat kamu.
Aku percaya kamu jujur. Pada nantinya akan terbuka, siapa dan seperti apa kamu sesungguhnya. Tak usah dikulik dan dicari-cari nanti cerita sendiri. Biarkan mengalir saja.
Aku tak bisa memuja agar kata bisa meruntuhkan rasa malu itu. Bisa meruntuhkan istilah aku dan kamu lantas tiba-tiba menjadi kita. Aku hanya memahami, tiap getar yang kita rasa adalah anugerah dari_Nya.
Aku hanya sebaris cerita yang kamu temui
dalam kisah yang kamu jalani
dengan perih penantian
dengan janji kebersamaan
runtuh oleh jarak yang memisahkan.
Kalau aku harus berpuisi, aku tidak paham apa kata indahnya. Karena indahnya itu di kamu, bukan di kata-kata. Kata mungkin bisa menghipnotis, tanpa rasa apa artinya semuanya?
Oleh karenanya, selamat malam untuk yang membaca ini. Semoga ini bisa membuka tanya dan rasa penasaran, karena jarak akhirnya membuat kita harus bisa menghela nafas.
Bukan seberapa jauh. Bukan seberapa lama. Bukan seberapa jatuh dalam penasaran, tapi lebih kepada seberapa jujur kepada diri kita tentang hati. Kalau kamu ingin tahu, puisi itu adalah kamu.
Sepertinya malam semakin larut, aku harus rehat menjemput mimpi dan takdir esok yang lebih cerah. Aku percaya, tidak ada pertemuan tiba-tiba dalam perjalanan hidup kita. Gimana menurutmu? (**)
Pandeglang, 10 Oktober 2026 23.56

0 Komentar
Menyapa Penulis