Catatan Puasa Ramadan Kelima Tahun 2026: Apa Manyil?

ilustrasi orang manyil. Sumber: Khutbahjum'at.com.


 Emak sering mencelak-menclak sama orang yang usil belanja, tapi niatnya setengah hati. Nyerocos dan membandingkan harga, atau komentar yang bikin hati meradang kepanasan. Di posisi itu, Emak mangkel.

Kata Emak, padahal tiap belanja ke Alfa atau Indomaret, tuh orang kayaknya royal banget. Atau belanja ke toko yang lain biasa saja, tapi kenapa tiap belanja ke warung kita, ada saja bahasa yang buat hati greget begitu. 

Emak kadang bertanya-tanya sama orang begitu. Apakah ia tidak tahu hukum menjaga lisan dalam Islam? Setahu Emak, ia rajin kok ikut pengajian. Masa iya, membedakan mana kata-kata yang baik, mana yang buruk yang bisa bikin hati terbakar saja tidak tahu. Sederhana begitu.

Bagi Emak, ia mau beli ke mana saja dan memilih warung yang paling murah di matanya, terserah. Tapi sebagai orang yang berakal, ia tahu kalau tak sehati, kenapa datang ke tempat yang bikin rasanya tak nyaman. Sudah, pilih mana yang bikin dia nyaman, sesederhana begitu kok. Ngapain belanja kalau setengah hati, kan jadinya menebar dosa.

"Emang kita menjual sesuatu tanpa pertimbangan harga," katanya dengan sebal.

Ternyata, hidup tak sesederhana itu. Ajaran Islam memang mulia dan pasti baik. Tapi tidak semua Muslim/ah baik. Ada satu sisi yang bisa mendistorsi kebaikan itu, yaitu nafsu dan bisikan setan. Kalau dipikir-pikir, kita merasa orang lain tidak baik. Apa iya, orang lain pun berpikir kita pun bisa tidak baik?

Pasti selalu ada saja orang yang tidak suka dengan kita; ada yang nyata menampilkan atau sengaja menyembunyikannya. Itu normal sih, namanya kehidupan ya. Kita tak bisa mengatur perasaan orang ke kita, tetapi kita bisa mengatur perasaan kita. Kita bisa memilih meresponsnya dengan baik atau sebaliknya. Itu ada di wewenang kita.

Aku sering bilang ke Emak, kita itu kadang tak adil dalam hidup. Kita selalu fokus pada satu orang yang tidak suka dengan kita, sedangkan begitu banyak orang yang suka dengan kita luput gara-gara ulah satu orang. Kita sering merasa tersakiti, terpukul, dan tersiksa sendiri, padahal bumi masih luas dan langit masih terus memayungi tak peduli seperti apa perasaan kita.

Maksudnya, berbuat baik itu tidak hanya untuk orang yang suka dengan kita. Berpikir baik itu tak hanya pada orang yang nampak suka dengan kita. Mungkin harus ada upaya untuk menyikapi mereka yang kurang suka dengan kita dengan baik. Ukurannya adalah nilai agama. Tujuannya adalah ridha Allah. Bukan pujian manusia.

"Tapi itu loh, manyil-nya gak ketulungan," ketusnya sambil membaca istighfar. Astagfirullahal'adzim. Semoga hari esok lebih baik, ya. (**)

Pandeglang, 23 Februari 2026   22.20

Posting Komentar

0 Komentar