![]() |
| sumber: Panti Yatim Indonesia |
Di hari ke tujuh belas Ramadan ini, bisa dikatakan tiga tahun usaha di rumah. Dan selama ini, aku menemukan banyak orang dengan ragam sikap dan tingkah laku yang berbeda-beda. Ada yang normal sampai ada yang abnormal. Ada yang bijak menasihati sampai ada pula yang rajin memanasi.
Ada yang malam-malam sudah tutup, menggedor-gedor pintu macam polisi lagi menangkap narapidana. Mengganggu, pasti. Bikin kesal, ya. Padahal cuma beli minuman seribu doang. Serius, bikin geleng-geleng.
Ada pula yang malam larut gedor-gedor pintu, pas dibuka ternyata mau utang rokok. Aku ingat betul sampai aku debat sama almarhum bapak. Bapak ngotot, ngapain malam-malam di buka dan dikasih pula utang. Bayangkan, jam 2 malam.
Namun, aku beralasan, dia sudah sering belanja kok dan biasanya jujur. Ternyata, dia bohong. Justeru baru bayar sekitar tiga bulan wafatnya Bapak. Ketidaksetujuan Bapak itu benar dan agak menyesal sih. Harus berdebat untuk orang yang omongannya gak bisa dipegang.
Aku pikir, wajar dong kami kesal. Malam itu waktunya istirahat dan wajar dong pas tidur saat ada yang beli tidak merespons. Namun, harus segitunya menggedor-gedor seolah macam mengegerbek pencuri?!
Heran banget, kok tidak memperhatikan hak orang. Memang benar kami pernjual, tapi entah di mana adabnya begitu. Ada begitu banyak waktu. Kenapa begitu larut?
Tapi sudahlah, mungkin aku saja yang terlalu baper. (**)

0 Komentar
Menyapa Penulis