Puasa Kesepuluh Ramadan 2026: Sebutan Ustaz yang dipersoalkan

Mempersoalkan status keduanya. (Islam.co)

Ada menarik saat adikku mengomentari postingan seorang santri, yang mana isi postingan itu menyinggung dua tokoh ustaz muda yang kerap nongol di media: Ustaz Felix dan Ustaz Hanan. Katanya, apa keduanya ustaz? Lebih jelasnya bisa disebut ustaz?

Kalau Ustaz Felix, bolehkah kalangan santri meragukan kualitasnya sebagai seorang ustaz? Aku amat paham budaya santri itu macam apa, bagaimana memberi barometer seseorang layak dicap ustaz. Namun, untuk Ustaz Hanan dan diragukan kemampuannya, ini agak rancu.

Ustaz Hanan orang Aceh pernah mondok di sana dan alhamdulillah hafal 30 juz. Melanjutkan studi ke Al-Azhar Kairo. Dinyatakan lulus. Tentu kita tahulah seperti dan bagaimana legendarisnya Al-Azhar di mata dunia Islam, dulu dan sekarang. Kalau kita masih mempertanyakan alumninya yang memang cukup berprestasi di sana lah, piye?

Sudah punya ijazah untuk mengajar. Jelas sekali sertifikatnya. Kalau pun masih mempersoalkan, ya sudah. Mungkin ia lebih alim atau mungkin pandangan lain yang belum aku pahami, kenapa masih meragukan keilmuan ustaz muda yang kerap nongol di layar maya.

Aku sendiri tidak mempersoalkan, walau pun tidak melulu setuju dengan kajiannya. Tapi itu tidak mengurangi rasa hormat. Beliau sudah dipanggil ustaz, dalam makna serderhananya adalah guru. Apa itu berlebihan? Tidak sama sekali.

Aktivitas harian keduanya dakwah kok. Menyampaikan pesan-pesan agama, baik bil hal maupun bil qoul. Melakukan semampu yang mereka bisa. Pada mereka yang muda dan punya pemikiran yang agak nyeleneh. Namun, mereka merangkulnya.

Simpulnya di sini, tiap pendakwah tentu punya medannya masing-masing. Tidak melulu harus menampilkan kajian-kajian klasik dan agak tertutup. Ada dunia lain yang perlu disentuh dan dirangkul. Tidak semua kalangan masuk ke sana; butuh kreativitas juga tekad baja.

Kalau ada yang mampu, di antaranya Ustaz Felix dan Ustaz Hanan. Ketidaksetujuan pandangan jangan sampai menutup keadilan kita berpikir dan menilai sesuatu. Yang harus kita lihat adalah output yang dibawa dan disampaikan. Pesan itu dan niatnya bukan hanya tampilannya. Kalau masih tak setuju, ya sudahlah. Wallahu'alam. (**)

Pandeglang, 01 Maret 2026   00.11

Posting Komentar

0 Komentar